Al-Qalam 1

-Habib Muhammad Bin  Anies Bin Sihab-

Kepatuhan kita kepada Rasulullah Saw sama sekali belum membalas jasa kita kepada Rasulullah,karena kepatuhan kita masih mendapat bayaran berupa pahala di akhirat nanti, Jadi sebesar apapun kepatuhan kita kepada Rasulullah Saw, tetap saja kita hutang budi yg sebesar besarnya kepada Rasulullah Saw

۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞

Advertisements

KATA-KATA MUTIARA IMAM SYAFI’I

1. “Barangsiapa mengaku dapat menggabungkan dua cinta dalam hatinya, cinta dunia sekaligus cinta Allah, maka dia telah berdusta.”

2. “Jika ada seorang yang ingin menjual dunia ini kepadaku dengan nilai harga sekeping roti, niscaya aku tidak akan membelinya.”

3. “Bila kamu tak tahan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan.”

4. “Berapa banyak manusia yang masih hidup dalam kelalaian, sedangkan kain kafannya sedang ditenun”.

5. “Orang yang berilmu dan beradab, tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu, merantaulah ke negeri orang”

6. “Aku tidak pernah berdialog dengan seseorang dengan tujuan aku lebih senang jika dia berpendapat salah”.

7. “Jangan cintai orang yang tidak m’cintai Allah. Kalau Allah saja ia tinggalkan, apalagi kamu”

8. “Barangsiapa yang menginginkan Husnul Khatimah, hendaklah ia selalu bersangka baik dengan manusia”.

9. “Pentingnya menyebarkan ilmu agama.”

10. “Ilmu itu seperti air. Jika ia tidak bergerak, aka menjadi mati lalu membusuk.”

11. “Doa di saat tahajud adalah umpama panah yang tepat mengenai sasaran.”

12. “Kamu seorang manusia yang dijadikan dari tanah dan kamu juga akan disakiti (dihimpit) dengan tanah.”

13. “Perbanyakkan menyebut Allah dari pada menyebut makhluk. Perbanyakkan menyebut akhirat daripada menyebut dunia”

14. “Ilmu itu bukan yang dihafal tetapi yang memberi manfaat.”

15. “Seorang sufi tidak menjadi sufi jika ada pada dirinya 4 perkara: malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan”.

16. “Siapa yang menasihatimu secara sembunyi-sembunyi maka ia benar-benar menasihatimu. Siapa yang menasihatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu”

17. “Bumi Allah amatlah luas namun suatu saat apabila takdir sudah datang, angkasa pun menjadi sempit”

18. “Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu”

19. “Aku mampu berhujjah dengan 10 orang berilmu, tapi aku akan kalah pada seorang yang jahil kerana dia tak tahu akan landasan ilmu”.

Laporan Fieldtrip di BBL Lampung (Hama dan Penyakit Ikan)

BAB I PENDAHULUAN

 1.1  Latar Belakang 
Disetiap kegiatan budidaya para petani selalu melakukan pengawasan terhadap kolam-kolam yang digunakannya. Hal tersebut dilakukan supaya dalam kegiatan budidaya tidak mengalami kegagalan ditengah kegiatan budidaya bahkan kerugian saat panen. Salah satu hal yang paling penting dan harus dilakukan adalah pengawasan terhadap hama dan penyakit yang menyerang kolam budidaya serta biota didalamnya.

Hama adalah suatu organisme yang dapat mengganggu kegiatan budidaya bahkan memberikan dampak kerugian bagi para petani ikan. Ada beberapa jenis hama yaitu predator, kompetitor dan inang/agen penyebar penyakit. Supaya kita tahu apa jenis hama yang menyerang kolam budidaya kita maka diperlukan suatu identifikasi terhadap organisme yang tidak ingin dalam budidaya tersebut. Pada praktikum kali ini kami para mahasiswa melakukan pengamatan dengan cara mengumpulkan data dan juga sampel bila diperlukan, dan kemudian melakukan identifikasi terhadap jenis organisme tersebut apakah termasuk dalam kategori predator, kompetitor atau inang parasit.

Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya serangan dari pathogen, virus, bakteri, maupun mikroorganisme parasit lainnya. Sedangkan penyakit non-infeksi adalah jenis penyakit yang disebabkan oleh lingkungan yang kurang baik, factor genetic, dan juga bisa disebabkan oleh kurangnya asupan nutrisi.

Supaya dapat lebih memahami tentang penyakit-penyakit yang terdapat diperairan laut, pengadaan kunjungan lapangan secara langsung ke BBPBL merupakan hal yang sangat tepat diaplikasikan.
BAB II METODE PELAKSANAAN

2.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Kegiatan kunjungan lapangan ini dilaksanakan pada hari Selasa , tanggal 1 November 2016, pukul 7:30-15:00 WIB. Kegiatan ini dilakukan di BBPBL (Balai Besar Perikanan Budidaya Laut), Pesawaran, Lampung.

Prosedur Kerja

Mahasiswa melakukan kunjungan langsung ke BBPBL

Mahasiswa mengikuti arahan dan dan menyimak materi yang diberikan oleh pemateri

Mahasiswa mengikuti koordinator lapangan untuk menelusuri lokasi

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Profil BBPBL

Untuk menunjang pelaksanaan program pengembangan budidaya laut di indonesia brdasarkan KEPPRES RI No. 23 Tahun 1982 dan SK. Menteri Pertanian Nomor 437 IKpts/Uml7/1982, pada tahun 1982 Direktorat Jenderal Perikanan telah merintis pembentukan Balai Budidaya Laut Lampung (BBL). Berdasarkan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 6IPERMEN’-KP/2014 tanggal 3 Februari 2014 dirubah menjadi Balai Besar Perikanan Budidaya Laut.

Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) adalah Unit Pelaksana Teknis berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementrian Kelautan dan Perikanan.

BBPBL mempunyai tugas melaksanakan uji terap teknik dan kerjasarna, pengelolaan produksi, pengujian laboratorium, mutu pakan, residu, kesehatan ikan dan lingkungan, serta bimbingan teknis perikanan budidaya laut.

3.2 Lokasi dan Area Laboratium Kesehatan dan Lingkungan pada BBPBL

Di BBPBL hanya memiliki 1 laboratorium kesehatan dan lingkungan yang digunakan untuk mengidentifikasi penyebab penyakit dan cara mengatasinya. Letak laboratorium kesehatan dan lingkungan ini berdekatan dengan laboratorium pengelolaan kualitas air.

Laboratorium memiliki banyak ruangan, diantaranya ada Ruang Mikroskop, Ruang Histologi, Ruang Mikrobiologi, Ruang Mikroskop dan ruang-ruang lain yang terdapat didalamnya.
 

3.3 Sistem Kesehatan dan Lingkungan di BBPBL

Dalam pengidentifikasian penyakit biasanya dilakukan di laboratorium. Untuk mengidentifikasi penyakit, biasanya digunakan secara langsung dari sampel ikan yang terkena penyakit. Identifikasi jenis penyakit dilakukan di ruang histologi. Ruang histologi ini berfungsi untuk mengidentifikasi penyakit-penyakit yang menyerang pada ikan. Sedangkan ruang mikrobiologi digunakan untuk mengisolasi satu jenis bakteri maupun patogen untuk diuji coba dan dipelajari agar dapat diketahui bagaimana cara mengobatinya.

Pada umumnya metode pengobatan yang dilakukan adalah kebalikan dengan cara mengobati penyakit ikan air tawar. Jika di air tawar biasanya menggunakan garam, tetapi di air laut justru menggunakan air tawar sebagai metode pengobatannya. Hal tersebut dilakukan karena biasanya mikroorganisme dilaut tidak dapat hidup di air tawar (tidak bersalinitas) sehingga menyebabkan mikroorganisme tersebut mati atau terlepas dari tubuh ikan.

BAB IV KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan

Penyakit-penyakit pada ikan yang terdapat di laut sangat berbeda dengan penyakit yang ada di air tawar. Penyakit dilaut lebih banyak jenisnya dan masih sangat sulit diobati, terutama apabila telah terkena virus. Hal tersebut dikarenakan perairan laut merupakan alam bebas yang dapat ditempati oleh banyak jenis mikroorganisme maupun virus.

4.2 Saran

Segala proses yang berhubungan dengan penyakit bisa berupa bakteri maupun virus perlu penanganan yang berhati-hati. Penyakit di air laut sangat berbahaya dibandingkan penyakit air tawar. Sehingga penggunaan alat, media budidaya, maupun sumber air harus benar-benar diperhatikan. Selain itu para pekerja lapangan atau kulturis juga perlu mengetahui dan pandai serta tepat dalam menangani segala kasus yang terjadi pada ikan budidaya dilaut.

FUNGSI, PERAN, PEMANFAATAN, SERTA PERMASALAHAN PADA CACING DALAM BUDIDAYA PERIKANAN DAN LINGKUNGAN

  1. PENDAHULUAN

Usaha budidaya ikan dan udang nampak semakin giat dilaksanakan baik secara intensif maupun secara ekstensif. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan budidaya ikan dan udang adalah kesediaan pakannya. Dalam penyediaan pakan harus diperhatikan beberapa faktor yaitu jumlah dan kualitas pakan, kemudahan untuk menyediakannya serta lama waktu pengambilan pakan yang berkaitan dengan penyediaan makanan yang dihubungkan dengan jenis dan umurnya.

Ada dua jenis cacing yang dapat digunakan sebagai pakan ikan, Cacing Sutera dan Cacing Tanah. Cacing-cacing ini sangat baik untuk ikan. Karena proteinnya mencapai 70% lebih. Untuk Cacing Sutera, biasanya diberikan dalam keadaan hidup atau masih segar ke dalam air karena lebih sukai ikan. Namun pada cacing tanah, biasanya dibuat menjadi pakan pelet.

  1. ISI
  • Cacing Tanah (Lubricus rubellus)
  1. Cacing Tanah Sebagai Bahan Pakan Alami

Cacing Tanah (Lubricus rubellus) adalah makanan alami dengan sumber protein tinggi sebagai bahan pakan ikan alternatif. Budidaya cacing tanah relatif mudah, efisien dan murah, dimana untuk membudidayakan cacing ini hanya dibutuhkan suatu media berupa tanah dan kompos. Sisa media dari budidaya cacing ini selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman (kascing), karena penguraian sampah organik oleh cacing tanah banyak menghasilkan unsur hara yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman.

Berkaitan dengan potensi cacing tanah sebagai bahan makanan sumber protein tinggi, pemanfaatannya sangat beragam seperti:

  • Untuk bahan campuran kosmetika.
  • Sebagai makanan suplemen kesehatan.
  • Bahan obat-obatan terutama yang menyangkut dengan antibiotik.
  • Sebagai pakan ternak.
  1. Komposisi Pada Lubricus rubellus

Komposisi nutrisi Lumbricus rubelius adalah sebagai berikut:

  • Protein Kasar : 60 – 72%
  • Lemak : 7 – 10%
  • Abu : 8 – 10%
  • Energi : 900 – 4100 kalori/gram.

Melihat komposisi nutrisinya, maka di dunia perikanan, cacing tanah ini berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan ransum makanan ikan. Seperti diketahui bahwa untuk pertumbuhan ikan, sangat ditentukan oleh kandungan protein dalam makanannya. Mengingat kandungan protein cacing yang cukup tinggi (lebih tinggi dari ikan dan daging) serta komposisi asam amino esensial yang lengkap, sehingga dapat diperkirakan bila cacing tanah ini dapat dimakan oleh ikan akan dapat memacu pertumbuhan dan menghasilkan ikan yang sehat serta tahan terhadap serangan penyakit.

Untuk memperoleh pelet dengan kandungan protein 35%, maka susunan ransumnya adalah:

  • Tepung Cacing : 47%
  • Telur Ayam : 20%
  • Terigu : 14%
  • Dedak : 18%
  • Kanji : 1%
  1. Cara Pembuatan Pakan Pelet

Untuk menjadikan pelet, bahan-bahan yang dipersiapkan adalah kuning telur ayam yang telah direbus, tepung kanji, terigu, dedak, tepung cacing, masing-masing ditimbang sesuai dengan analisis bahan. Langkah-langkah pembuatannya sebagai berikut :

  • Semua bahan dicampur dan diaduk menjadi satu.
  • Tambahkan air hangat secukupnya hingga adonan menjadi cukup kenyal. Penggunaan air harap seminim mungkin.
  • Setelah adonan terbentuk selanjutnya dicetak dengan mesin penggiling daging sehingga menghasilkan pelet basah yang panjangnya seperti mie.
  • Pelet basah tersebut dipotong per 0,5 cm membentuk butiran-butiran.
  • Setelah itu pelet dijemur di panas matahari seharian.
  • Kemudian pelet ditimbang dan siap digunakan.
  1. Cara Membudidayakan Cacing Tanah
  1. Tanah sebagai media hidup cacing harus mengandung bahan organik dalam jumlah yang besar.
  2. Bahan-bahan organik tanah dapat berasal dari serasah (daun yang gugur), kotoran ternak atau tanaman dan hewan yang mati. Cacing tanah menyukai bahan-bahan yang mudah membusuk karena lebih mudah dicerna oleh tubuhnya.
  3. Untuk pertumbuhan yang baik, cacing tanah memerlukan tanah yang sedikit asam sampai netral atau ph sekitar 6-7,2. Dengan kondisi ini, bakteri dalam tubuh cacing tanah dapat bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan atau fermentasi.
  4. Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing tanah adalah antara 15-30 %.
  5. Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan cacing tanah dan penetasan kokon adalah sekitar 15–25 0 Suhu yang lebih tinggi dari 25 0C masih baik asal ada naungan yang cukup dan kelembaban optimal.
  6. Lokasi pemeliharaan cacing tanah diusahakan agar mudah penanganan dan pengawasannya serta tidak terkena sinar matahari secara langsung, misalnya di bawah pohon rindang, di tepi rumah atau di ruangan khusus (permanen) yang atapnya terbuat dari bahan-bahan yang tidak meneruskan sinar dan tidak menyimpan panas.
  • Cacing Sutera (Tubifex sp)
  1. Biologi cacing sutera

Cacing Tubifex sp merupakan hewan tingkat rendah, karena tidak memiliki tulang belakang yang disebut ivertebrae. Taksonomi dan nomenklatur untuk cacing Tubifex sp sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Phylum    : Annelida

Kelas        : Clitella

Sub Kelas : Oligochaeta

Ordo        : Haplotaxida

Sub Ordo         : Tubificina

Famili      : Tubificidae

Genus      : Tubifex

Spesies     : Tubifex sp

Cacing Tubifex sp digunakan sebagai pakan alami untuk benih yang agak besar. Cacing Tubifex sp umumnya ditemukan pada daerah air perbatasan seperti daerah yang terjadi polusi zat organik secaar berat, daerah endapan sedimen dan perairan oligotropis. Ditambah bahwa spesies Cacing Tubifex sp ini bisa mentolelir perairan dengan salinitas dengan 10 ppt. Ada dua faktor yang mendukung habitat hidup Cacing Tubifex sp, yaitu endapan lumpur dan tumpukan bahan organik yang banyak.

Ketinggian air pada lingkungan pemeliharaan Cacing Tubifex sp berpengaruh terhadap ketahanan hidup dan perkembangannya. Jika air terlalu tinggi, maka koloni atau populasi Cacing Tubifex sp akan tidak berkembang bahkan akan mengalami kematian karena Cacing Tubifex sp ini membutuhkan oksigen dari luar untuk bernapas. Sedangkan apabila air terlau rendah atau sedikit, maka lingkungannya akan cepat panas sehingga Cacing Tubifex sp ini tidak akan dapat bertahan hidup lebih lama. Ketinggian air yang optimal pada populasi Cacing Tubifex sp adalah setinggi 6 cm.

Semakin tinggi kadar amoniak pada kelimpahan Cacing Tubifex sp semakin rendah. Meningkatnya kadar amoniak hingga 0,29-0,96 mg/l diikuti dengan menurunnya kelimpahan Cacing Tubifex sp.

Pertukaran gas oksigen dan CO2 pada Cacing Tubifex sp, dilakukan melalui permukaan tubuh. Kebanyakan Cacing Tubifex sp membangun tabung pada substratnya dan bagian ekornya melambai-lambai, sehingga bisa membuat sirkulasi air dan membuat oksigen lebih banyak untuk diterima oleh permukaan tubuh. Ditambahkan bahwa populasi Cacing Tubifex sp tak bisa diperbaiki pada kondisi yang tanpa oksigen.

Hanya sepertiga spesimen sampel Cacing Tubifex sp yang digunakan mampu bertahan pada kondisi anaerob selama 48 hari pada suhu 0-2 0C dan pada suhu yang lebih tinggi persentasenya lebih sedikit lagi. Penelitian lain menunjukan angka populasi lebih rendah lagi setelah 120 hari, pada kondisi anaerob.

Secara umum, konsentrasi oksigen yang lebih rendah membuat gerakan bagian ekor Cacing Tubifex sp semakin giat untuk melambai menghasilkan aerasi. Tetapi jika kadar oksigen mulai punah, maka Cacing Tubifex sp menjadi diam pergerakannya.

Sel sensor pada kulit Cacing Tubifex sp secara umum sensitif terhadap sentuhan suhu dan rangsangan kimiawi dari luar. Suhu memang bukanlah salah satu faktor pembatas bagi Cacing Tubifex sp tetapi sering kali mempengaruhi kelimpahan Cacing Tubifex sp klas Oligochaeta ini.

  1. Pembibitan Cacing Tubifex sp

Cacing Tubifex sp yang hidup diperairan alam dapat ditangkarkan ditempat-tempat terkontrol, misalnya kubangan tanah. Di dalam kubangan ini kondisi (habitat) dibuat menyamai (mirip) habitat alami berlumpur. Kubangan diisi campuran pupuk kandang (kotoran ayam) dan dedak halus setebal 1 cm. Pupuk kandang dilumatkan dan dicampurkan dengan dedak halus. Selanjutnya diratakan dan diisi sama aur. Biarkan rendaman ini sampai membentuk endapan. Kemudian dimasukkan “klon” (bibit) Cacing Tubifex sp yang diangkat dari perairan alam dan aliran air untuk menggantikan peresapan dan penguapan. Aliran air dibesarkan sedikit setelah bibit ditanam (ditebarkan). Aliran air dibesarkan sedikit setalah bibit ditanam (ditebarkan). Aliran air ini dibutuhkan untuk menggantikan air yang ada secara terus menerus.

Masa penakaran Cacing Tubifex sp ini tergantung tujuan produksi cacing yang didinginkan. Biasanya Cacing Tubifex sp akan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru selama beberapa hari. Cacing Tubifex sp ini mulai berkembang biak setelah 7 sampai 11 hari penakarannya. Terpenting yang harus diperhatikan selama penangkaran Cacing Tubifex sp ini jangan samapi terjadi kekeringan, karena Cacing Tubifex sp ini tidak akan tumbuh dan berkembang biak dengan baik bila dalam kondisi kering. Hasil penakaran Cacing Tubifex sp ini selanjutnya digunakan sebagai bibit pada produksi massal Cacing Tubifex sp di tempat pemeliharaan yang ukurannya lebih luas.

Tujuan penakaran Cacing Tubifex sp yaitu untuk memperoleh bibit Cacing Tubifex sp yang telah terbiasa hidup di lingkungan/habitat buatan. Dengan cara ini setidaknya kematian bibit Cacing Tubifex sp dalam produksi massal dapat dihindarkan sehingga persiapan lahan pemeliharaan Cacing Tubifex sp sesuai.

Permasalah yang kerap terjadi dalam penyediaan pakan alami seperti Cacing Tubifex sp ini adalah dalam masalah pengangkutan ke tempat lain yang jauh. Kerap dijumpai matinya Cacing Tubifex sp ini dalam masa pengangkutan tersebut sehingga Cacing Tubifex sp tidak segar dan tidak disukai ikan dan udang saat pemberian pakannya, ataupun tidak bisa dikembang biakkan lagi ditempat lain. Hal ini yang harus dipertimbangkan dan dikaji lebih lanjut lagi.

 


  • KESIMPULAN

 

Keberadaan pakan alami mutlak dibutuhkan sebagai selah satu unit dalam kesatuan usaha budidaya pembenihan. Jenis Cacing Tubifex sp adalah salah satu pakan alami bagi ikan dan udang yang mempunyai kandungan gizi yang baik di dalam tubuhnya.

Cacing Tubifex sp mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan disebabkan kandungan lemak dan protein yang ada dalam tubuhnya. Kandungan protein dalam tubuhnya cukup tinggi yaitu berkisar 51,9% protein, lemak 22,3% dan abu 5,3% serta kandungan asam aminonya juga lengkap.

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.yarjohan.com/2008/06/produksi-tubifex-sp-sebagai-pakan-alami.html

http://umargani.blogspot.com/2010/11/manfaat-cacing-bagi-kehidupan.html

http://www.alamikan.com/2014/05/cara-budidaya-cacing-tanah-sebagai.html